RANAHBERITA– Pengusaha muda Sumatera Barat Andre Rosiade gagal maju jadi calon Wali Kota Padang. Andre yang sejak setahun terakhir gencar melakukan sosialisasi diri melalui media massa dan baliho besar di berbagai sudut Kota Padang, tak bisa maju karena tak jadi diusung partai.
Untuk biaya sosialisasi diri selama berbulan-bulan, Andre mengaku sudah menghabiskan miliaran rupiah. Namun, ketika ditanya, ia menolak menyebut rinciannya.
“Angkanya itu rahasia perusahaan. Yang jelas miliaran,” katanya kepada ranahberita.com, Sabtu (6/7/2013).
Baginya, biaya tersebut bukan dianggap sebagai kerugian, tapi bagian dari perjuangan. “Bagi saya ini pelajaran. Saya sekarang belajar untuk ikhlas. Saya akan tetap mengadakan blusukan ke Kota Padang,” katanya.
Gagalnya Andre Rosiade maju jadi calon wali kota atau wakil wali kota, menjadi pembicaraan hangat di Kota Padang. Pasalnya, salah satu lembaga survey di Padang menyebut elektabilitasnya cukup tinggi dan hanya dikalahkan incumbent Wakil Wali Kota Padang Mahyeldi Ansharullah yang maju jadi calon wali kota dari PKS.
Lagi pula, sudah sekitar satu tahun, wajahnya muncul di berbagai baliho sambil tersenyum dan mengepalkan tangan. Awalnya, baliho tersebut bertuliskan ajakan jadi pengusaha. Lambat laun, berubah menjadi “Untuk Kota Padang yang Lebih Baik”.
Seiring dibukanya pendaftaran calon Walikota oleh Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kota Padang, Andre mulai menjalin hubungan dengan partai politik. “Saya mendapat tawaran dari berbagai partai,” kata Andre.
Menurutnya, dari sekian banyak partai yang menawarkan, ia memilih berkolaborasi dengan Mahyeldi yang diusung Partai Keadilan Sejahtera (PKS). Isu pun beredar.
“Tidak jadi. PKS memilih Emzalmi sebagai pasangan Mahyeldi. Saya menilai, pemilihan pasangan Pak Mahyeldi itu tidak biasa,” kata Andre.
Menurutnya, Mahyeldi mendapat tekanan yang berat dari partainya. “Ada penguasa PKS yang tidak setuju saya naik.”
Kini, Andre kembali ke dunianya, bisnis dan berniat akan bergabung di partai politik pasca Pemilu 2014 nanti. Ia mengklaim, sudah banyak partai politik yang menawarkan dengan posisi strategi. (Arjuna Nusantara/Ed1)Sumber :